Connect With Us

31 Agustus 2009

Serunya Mengedit Video

0 komentar
Berkat format baru AVCHD dan Blu-ray, para sineas amatir pun mampu menghasilkan video berkualitas tinggi. Syaratnya, gunakan software yang tepat.

Serunya menghabiskan liburan di Bali, rasa haru dalam pesta pernikah­an keluarga dan kerabat, gegap gempita perayaan ulang tahun anak, dan masih banyak lagi momen unik dan menarik lainnya yang bisa terekam ke dalam camcorder dalam genggaman Anda. Namun, setelah itu muncul pertanyaan, de­ngan software apa video harus diedit, dan software apa saja yang mampu membakar semua format DVD ke format Blu-ray? Pada saat ini terasa sulit menentukan pilihan software mana yang terbaik untuk mengolah video, soalnya kini sejumlah paket software video editing memiliki kemiripan dan semua telah mengembangkan diri serta siap menghadapi tantangan baru. Berbagai format didukung, apakah dari camcorder, penerimaan TV satelit, dari DVD, atau dari Internet. Tidak menjadi masalah, apakah camcorder merekam pada kaset mini DV, hard disk internal, atau memory card. Selain itu, apabila dulu meng­upload video untuk YouTube langsung dari software merupakan spesialisasi Cyberlink Power Director, kini kebanyakan program menyelesaikannya dengan beberapa klik.

Namun, dalam tes perbandingan yang dilakukan CHIP, tampak perbedaan antara keenam program yang kami uji, misalnya pada saat proses instalasi. Adobe, Magix, dan Pinnacle melibatkan pengguna ke dalam prosedur pendaftaran yang rumit. Ketiga software tersebut harus meminta kode aktivasi untuk MPEG4 dan Dolby 5.1 melalui Internet, lalu memasukkannya ke dalam software. Setidaknya, produsen tidak lagi menarik biaya seperti versi-versi terdahulu. Sebaliknya mereka membanjiri pengguna dengan sejumlah tools tambahan.

Apabila diinginkan, Corel akan sekalian menginstalasi Corel DVD Copy 6, WaveLab LE6 dari Steinberg, dan WinDVD 9 untuk memutar film DVD. Pada CyberLink tersedia PhotoNow dan SmartSound sebagai bonus. Pinnacle mengemas tiga plugin untuk Studio-nya dan Magix menyertakan sebuah starter pack dengan 170 efek serta Foto Manager dan Mufin MusicFinder Base untuk mengolah musik.

Impor: permasalahan dalam AVCHD
CHIP telah menguji proses impor dengan dua camcorder hard disk. Materi MPEG2 dari Sony DCR-SR210E bukan masalah bagi para peserta tes, namun rekaman AVCHD dari Panasonic HDC-SD9 cukup memberikan tantangan, terutama ketika software harus mendownload klip lang­sung dari camcorder melalui port USB.

Pinnacle Studio membutuhkan waktu lama untuk menampilkan daftar file. Sony Vegas Platinum menampilkan struktur menu pada camcorder hard disk, namun tidak dapat membaca klip yang bersangkutan. CyberLink dan Adobe tampil meyakinkan dengan tampilan thumbnail, sehingga kita dapat memilih dengan nyaman.

Apabila timbul masalah, para sineas amatir harus mengcopy klip mereka ke hard disk PC. Dengan demikian, setiap software dapat menangkap data yang bersangkutan dengan cepat dan mudah. Format 16:9 pun dapat dikenali dan diolah. Anehnya, CyberLink PowerDirector menjanjikan format 4:3 dalam window teks, namun menampilkan video format 16:9.

Software yang cukup menarik perhatian adalah Pinnacle Studio 12. Dengan sebuah update gratis untuk format QuickTime MOV, ia menguasai hampir semua format audio dan video. Software lainnya pun mampu mengolah hampir semua format, kecuali RealMedia dan DivX yang membutuhkan codec khusus.

{mospageberak}

Editing: banyak efek
Setiap versi terbaru dirilis, perkembangan tiap software sering kali tampak pada tools-tools editingnya, terutama tools trimming (untuk memotong awal dan akhir sebuah klip). Setiap program juga menawarkan lebih dari 200 transisi gambar dan efek.

Di dalam menu “Effects” pada software Magix, terdapat banyak tool optimalisasi berkualitas yang mudah dioperasikan. Kecerahan dan kontras, saturasi warna dengan white-balance, dan ketajaman gambar dapat dengan mudah diatur. Selain itu, klip dapat ditampilkan dalam “cuplikan” dan dengan bebas di-zoom, diubah bentuknya atau di-distorsi. Walau banyak pernak-pernik, editing sebenarnya tidak kurang. Timeline dan storyboard mudah dilengkapi, transisi mudah ditambahkan.

Pengguna juga akan mengapresiasi keragaman dan pengoperasian pada Sony. Kontras dan saturasi warna diatur dengan sebuah slider. Namun, apa yang dicari tools-tools pengolah gambar di Video-FX, tetap menjadi rahasia Sony dan banyak pengguna tidak akan menemukannya.

Pinnacle Studio tampil meyakinkan dengan struktur yang jelas. Dalam daftar klip tercantum semua data penting seperti format file, resolusi atau frekuensi gambar. Sebuah klik kanan dalam timeline siap menunjukkan, di direktori mana klip yang bersangkutan tersimpan di hard disk. Agar tidak membingungkan, Pinnacle Studio hanya menampilkan tujuh track audio dan video. Namun, melalui bagian montage, track-track lainnya dapat digunakan.

Fungsi edit dalam Corel VideoStudio juga mudah dioperasikan. Menu yang tepat tersedia, begitu sebuah klip tampak dalam jendela preview. Sayangnya seperti juga program lainnya, Corel tidak dapat mengantisipasi sistem yang crash saat editing.

Satu-satunya peserta tes tanpa stabilisasi gambar adalah Adobe Premiere Elements. Sebagai kompensasi, tersedia tool-tool berkualitas. Pada pilihan settingnya dapat diketahui bahwa Adobe juga memiliki software video editing untuk profesional.

Output: dari Blu-ray hingga YouTube
Semua software dalam tes kali ini mampu menghasilkan video dalam berbagai format. Hanya DivX, RealMedia, dan FLV tidak tersedia pada beberapa program diantaranya. Ekspor MPEG4 dalam semua variasinya untuk perangkat mobile seperti iPod atau Sony PlayStation berhasil tanpa masalah. Ponsel atau PDA juga dilayani dengan format 3GP.

Semua mampu menghasilkan AVCHD beresolusi tinggi pada keping Blu-ray. Selain itu, semua software dalam tes mampu membakar CD, DVD atau membuat klip untuk Internet terutama di website sharing video ternama, YouTube.

Software yang paling nyaman dioperasikan adalah CyberLink PowerDirector. Tombol-tombolnya besar dan jelas, bahkan pemula pun dapat langsung bekerja. Pada AVCHD software ini mengaku akan membakar video dalam resolusi 720 x 576 pada sebuah keping Blu-ray dan bukan resolusi HD seperti seharusnya. Masalah ini baru dapat diatasi dengan sebuah update.

Tampak sekali banyak produsen rajin menyediakan update, termasuk Magix dan Pinnacle. Update yang gratis tersebut perlu Anda manfaatkan, karena semua produsen sekarang ini masih melakukan perbaikan. Tidak heran apabila AVCHD dan Blu-ray masih merupakan “Work in progress”.

Pinnacle juga meyakinkan dalam pembuatan film. Pertama, Anda tetapkan media outputnya. Setelah itu, atur setting dalam jendela kedua. Pada Adobe, sebalik­nya pengguna harus tahu, format mana yang diinginkan, dan apa arti istilah seperti “H.264 1440 x 1080i 25”.

Pada saat pengujian software Premiere Elements terjadi sesuatu yang tidak dapat dijelaskan. Sebuah klip dalam film menjadi tampak seperti negatif. Premiere Elements hanya membakar VCD dan SVCD. Sangat ketinggalan jaman dan mungkin kurang cocok untuk para sineas modern.

Untuk jumlah dan variasi menu DVD, software Magix tampil mengesankan. Selain itu, Sony juga sangat variatif pada menu dan memungkinkan pengubahan desain menu dan tombol.

Pada MPEG2 semua peserta tes menghasilkan kualitas gambar yang baik. Untuk MPEG4 hanya di bawah kondisi tertentu. Apabila tidak mengatur sendiri bitrate dan resolusi sesuai kebutuhan, Anda akan mendapatkan kotak-kotak (artefak) pada gerakan cepat (pada software Corel dan Pinnacle), bahkan ditambah dengan garis-garis jejak (pada software Magix).

Setting dasar otomatis beberapa profil dalam program-program ini tidak optimal. Misalnya Pinnacle hanya menyediakan bit­rate 2 MBit/detik untuk sebuah profil MPEG4-HD nya.

Kesimpulan Chip
Semua software video editing dalam tes ini telah mencapai tingkat yang cukup tinggi dan meyakinkan dengan dukungan banyak format dan beragam feature yang mengesankan. Format AVCHD pun tidak lagi menjadi hambatan seperti dalam versi-versi terdahulu. Magix de­ngan banyak kemungkinan editing unggul tipis sebagai pemenang tes, disusul oleh Pinnacle dengan sebuah panduan pengguna yang sangat informatif.


Pengoperasian:
tidak semua untuk pemula
PowerDirector dari CyberLink menjadi tela­dan dalam panduan menu dan tampilan pengoperasian. Software ini disarankan bagi pemula atau yang tidak suka mengatur option-option teknis serta ingin cepat menyusun sebuah film. Dengan sejumlah klik, Anda dapat mendownload efek, transisi gambar, atau sound dari Internet.

Ergonomi terbaik ditawarkan oleh Pinnacle Studio yang sangat mudah dioperasikan. Studio terstruktur sangat jelas. Panduan penggunanya tegas. Antara rekaman, editing, dan pembuatan film dibatasi de­ngan jelas. Semua tools editing ditampilkan dan mudah dipahami. Hanya dalam fungsi­onalitas saja ia masih kalah oleh Magix.

Masalah pada Magix, software ini memang tampak sangat rapi dan memiliki struktur yang jelas. Namun, Magix menawarkan terlalu banyak pilihan editing. Akibatnya, terlihat rumit dalam pengoperasian dan memiliki banyak submenu.

Adobe Premiere Elements juga hanya tampak sederhana pada pandangan pertama. Tampilannya simpel dan minimalis. Namun ketika bekerja, muncul spesifikasi teknis yang harus Anda pilih. Serupa dengan Sony, tampilan pengoperasian berisi beragam icon dengan poin menu yang tidak selalu dapat ditebak. Kami merasakan, sebuah software profesional berada di baliknya yaitu Sony Vegas Pro.

Selain itu, dalam Movie Studio, proses rendering AVCHD berlangsung lama. Disini kami menguji dengan setting standar untuk full-HD. Yang tercepat adalah Corel berkat Smart Rendering-nya sehingga lebih efektif menangani materi AVCHD. Inovasi yang bagus, karena dengan demikian para sineas amatir tidak perlu duduk terus menerus di depan PC dan dapat melanjutkan proses shooting dengan camcordernya.

Leave a Reply